DIAL M FOR MUSTAFA
My World, My Vision

Jan
04

Berikut adalah daftar nominasi IAA 2009! Siapa jagoan Anda?!
NB: Sekali lagi, susunan nominasi ini adalah murni pilihan Ahmad Mustafa, jadi subjektifitas tidak terhindarkan. Setuju atau tidak adalah hal yang lumrah. So, tidak perlu protes! >_<

FILM TERBAIK
• EMAK INGIN NAIK HAJI – Putut Wijanarko, Adenin Adian (Produser) [Mizan Production, Smaradhana Pro]
• KING – Ari Sihasale (Produser) [Alenia Pictures]
• PINTU TERLARANG – Sheila Timothy (Produser) [Lifelike Picture]
• SANG PEMIMPI – Mira Lesmana (Produser) [Miles Production, Mizan Production]
• UNDER THE TREE – Garin Nugroho, Dina Jasanti (Produser) [Credo Picture, Oro-Oro Film Arts, & Yayasan SET]

SUTRADARA TERBAIK
• Joko Anwar – Pintu Terlarang
• Ifa Isfansyah – Garuda di Dadaku
• Aria Kusumadewa – Identitas
• Garin Nugroho – Under the Tree
• Riri Reza – Sang Pemimpi

AKTOR TERBAIK
• Fachri Albar [Sbg. Gambir] – Pintu Terlarang
• Alex Komang [Sbg. Raja Ali Haji] – Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji
• Emir Mahira [Sbg. Bayu] – Garuda di Dadaku
• Tio Pakusadewo [Sbg. Adam] – Identitas
• Reza Rahardian [Sbg. Zein] – Emak Ingin Naik Haji

AKTOR PENDATANG BARU TERBAIK
• Rendy Ahmad [Sbg. Arai] – Sang Pemimpi
• Edo Borne [Sbg. Rangga] – Romeo Juliet
• Emir Mahira [Sbg. Bayu] – Garuda di Dadaku
• Rangga Raditya [Sbg. Guntur] – King
• Iko Uwais [Sbg. Yuda] – Merantau

AKTOR PENDUKUNG TERBAIK
• Pong Harjatmo [Sbg. Dr. Halim] – Babi Buta yang Ingin Terbang
• Ikranagara [Sbg. Kakek] – Garuda di Dadaku
• Tio Pakusadewo [Sbg. Semsar] – Jagad X Code
• Didi Petet [Sbg. Johar] – Jermal
• Mamiek Prakoso [Sbg. Ayah Guntur] – King

AKTRIS TERBAIK
• Atiqah Hasiholan [Sbg. Maida] – Ruma Maida
• Aty Kanser [Sbg. Emak] – Emak Ingin Naik Haji
• Rachel Maryam [Sbg. Yanti] – Sepuluh
• Sissy Prescillia [Sbg. Desi] – Romeo Juliet
• Marcella Zalianty [Sbg. Maharani] – Under the Tree

AKTRIS PENDATANG BARU TERBAIK
• Atiqah Hasiholan [Sbg. Jamila] – Jamila dan Sang Presiden
• Sisca Jessica [Sbg. Astri] – Merantau
• Saira Jihan [Sbg. Annisa] – Cin(t)a
• Ayu Laksmi [Sbg. Dewi] – Under the Tree
• Leoni VH [Sbg. Gadis Tanpa Nama] – Identitas

AKTRIS PENDUKUNG TERBAIK
• Henidar Amroe [Sbg. Engku Puteri Raja Hamidah] – Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji
• Henidar Amroe [Sbg. Menik Sasongko] – Pintu Terlarang
• Christine Hakim [Sbg. Ibu Ria] – Jamila dan Sang Presiden
• Maudy Koesnaedi [Sbg. Wahyuni] – Garuda di Dadaku
• Aryani Kriegenburg Willems [Sbg. Soka] – Under the Tree

ARTISTIK – TATA ARTISTIK TERBAIK
• Ketika Cinta Bertasbih – El Badrun
• Merah-Putih – Iri Supit, Maya Lubis
• Pintu Terlarang – Wencislaus
• Ruma Maida – Indra Tamoron Musu, Shaft Daultsyah
• Under the Tree – Budi Riyanto

ARTISTIK – TATA BUSANA TERBAIK
• Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji – Heru Mulyadi
• Merah-Putih
• Pintu Terlarang – Isabelle Patrice, Tania Soeprapto
• Ruma Maida
• Under the Tree

ARTISTIK – TATA RIAS TERBAIK
• Jermal – Jerry Octavianus, Novie Ariyantie
• Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji – Heru Mulyadi
• Merah-Putih – Rob Trenton
• Merantau
• Pintu Terlarang – Dindin Samsudin

EDITING TERBAIK
• Babi Buta Yang Ingin Terbang – Herman Panca
• Merah-Putih – Sastha Sunu
• Merantau – Gareth H. Evans
• Pintu Terlarang – Wawan I. Wibowo
• Under the Tree – Andhy Pulung

FILM DOKUMENTER TERBAIK
• Ayam Mati Di Lumbung Padi – Darwin Nugraha
• Ngundal Piwulang Wandu (Dalang Waria) – Kuncoro Indra Kurniawan, Kukuh Yudha Karnanta
• The Last Journey – Endah WS

FILM PENDEK TERBAIK
• Dara (dari kumpulan film pendek ‘Takut’) – Kimo Stamboel, Timothy Tjahjanto
• Musafir – BW Purba Negara
• Trip to the Wound – Edwin

MUSIK – LAGU TERBAIK
• “Meraih Mimpi” dari ‘Meraih Mimpi’ – Vocal: Gita Gutawa
• “Ratu Lebah” dari ‘Queen Bee’ – Cipt & Vocal: ‘RAN’
• “Slank Dance” dari ‘Generasi Biru’ – Cipt & Vocal: ‘Slank’
• “Sang Pemimpi” dari ‘Sang Pemimpi’ – Cipt. & Vocal: ‘Gigi’

MUSIK – TATA MUSIK TERBAIK
• Garuda di Dadaku – Aksan Sjuman & Titi Sjuman
• Generasi Biru – ‘Slank’
• Pintu Terlarang – Aghi Narottama, Bemby Gusti, Ramondo Gascaro
• Sang Pemimpi – Said Effendi
• Under the Tree – Kadek Suardana, Wiwiex Soedarno

PENULISAN SKENARIO ADAPTASI TERBAIK (Dari Berbagai Medium, termasuk film sekuel)
• Emak Ingin Naik Haji – Adenin Adlan & Aditya Gumay (Diangkat dari cerpen ‘Emak Ingin Naik Haji’ karya Asma Nadia)
• Get Married 2 – Cassandra Massardi (Merupakan sekuel dari film Get Married)
• Ketika Cinta Bertasbih – Imam Tantowi (Diangkat dari novel ‘Ketika Cinta Bertasbih’ karya Habiburrahman El Shirazy)
• Pintu Terlarang – Joko Anwar (Diangkat dari novel ‘Pintu Terlarang’ karya Sekar Ayu Asmara)
• Sang Pemimpi – Salman Ariesto, Riri Reza, Mira Lesmana (Diangkat dari novel ‘Sang Pemimpi’ karya Andrea Hirata)

PENULISAN SKENARIO ASLI TERBAIK
• Cin(t)a – Sally Anom Sari, Sammaria Simanjuntak
• Identitas – Aria Kusumadewa
• King – Dirmawan Hatta
• Merantau – G.H Evans
• Under the Tree – Armantono

SINEMATOGRAFI TERBAIK
• Kambing Jantan – Rei Supriadi
• King – Yudi Datau
• Pintu Terlarang – Ipung Rahmat Syaiful
• Ruma Maida – Ichal Tanjung
• Under the Tree – Yadi Sugandi

SUARA – TATA SUARA TERBAIK
• Merah-Putih
• Merantau
• Pintu Terlarang – Dwi Budi Priyanto, Khikmawan Santosa
• Ruma Maida – Shaft Daultsyah, Khikmawan Santosa
• Under the Tree – Adityawan Susanto

PENGHARGAAN PENGABDIAN SEUMUR HIDUP (UNTUK TOKOH WANITA)
Titiek Puspa

PENGHARGAAN PENGABDIAN SEUMUR HIDUP (UNTUK TOKOH PRIA)
• Chaerul Umam

PENGHARGAAN ISTIMEWA
• Man Cenik, Ayu Bulantrisna Djelantik, Mukelen, Arini, I Ketut Rina (penari tradisional Bali) – Under the Tree
• Datuk Rajo Gampo Alam & Tim Silat Harimau (Action Choreographer) – Merantau

POSTER OF THE YEAR (Non-Award)
• Babi Buta yang Ingin Terbang
• Emak Ingin Naik Haji
• Generasi Biru
• Pintu Terlarang
• Under the Tree

Dengan demikian, Pintu Terlarang dan Under the Tree memimpin dengan 12 nominasi. Disusul Sang Pemimpi dengan 6 nominasi, King dengan 5 nominasi, dan Emak Ingin Naik Haji dengan 4 nominasi (seluruhnya diluar ‘Poster of the Year’). So, siapa jagoan kamu?

Jan
03

Indonesia Academy Award (IAA) ialah ajang yang bertujuan memberikan apresiasi dan penghargaan pada insan-insan perfilman Indonesia tiap tahunnya. IAA digagas oleh Ahmad Mustafa dan menjadi sebuah award pribadinya. Resminya, IAA pertama kali dicetus pada April 2001. Kendati demikian, IAA 2000 sengaja diadakan untuk memberikan penghargaan pada film-film yang rilis tahun 2000 dan sebelumnya. IAA 2000 merupakan ajang coba-coba, namun tetap dianggap sebagai IAA yang pertama. Seluruh nominasi dan pemenang IAA tentu saja murni pilihan Ahmad Mustafa sendiri. Dengan demikian, subjektifitas tidak terhindari. Jadi, bila ada yang tidak setuju dengan hasil yang ada, hal tersebut sah-sah saja. >_<

Inilah daftar seluruh pemanang IAA dari tahun 2000-2008:

FILM TERBAIK
2000 Pasir Berbisik (8)
2001 Ca-Bau-Kan (9)
2002 Biola Tak Berdawai (6)
2003 Arisan! (10)
2004 Mengejar Matahari (8)
2005 Gie (6)
2006 Berbagi Suami (4)
2007 Nagabonar Jadi 2 (3)
2008 Laskar Pelangi (7)

SUTRADARA
* Nan T. Achnas – Pasir Berbisik
* Nia DiNata – Ca-Bau-Kan
* Dimas Djajadiningrat – Tusuk Jelangkung
* Nia DiNata – Arisan!
* Rudi Soedjarwo – Mengejar Matahari
* Riri Reza – Gie
* Garin Nugroho – Opera Jawa
* Lance – Jakarta Undercover
* Hanung Bramantyo – Ayat-Ayat Cinta

AKTOR
* Derby Romero – Petualangan Sherina [Sadam]
* Ferry Salim – Ca-Bau-Kan [Tan Peng Lian]
* Indra Birowo – Rumah ke Tujuh [Cakra]
* Tora Sudiro – Arisan! [Sakti]
* Winky Wiryawan – Mengejar Matahari [Ardi]
* Nicholas Saputra – Gie [Soe Hok Gie]
* Albert Fakdawer – Denias, Senandung Di Atas Awan [Denias]
* Deddy Mizwar – Nagabonar Jadi 2 [Nagabonar]
* Aming Sugandi – Doa yang Mengancam [Madrim]

AKTOR PENDATANG
* Heru – Daun Di Atas Bantal [Heru]
* Nicholas Saputra – Ada Apa Dengan Cinta? [Rangga]
* Marcelius ‘Marcel’ Siahaan – Andai Ia Tahu [Rio]
* M. Dwiki Reza – Kiamat Sudah Dekat [Saprol]
* Fauzi Baadila – Mengejar Matahari [Damar]
* Jonathan Mulya – Gie [Soe Hok Gie remaja]
* Ringgo Agus Rahman – Jomblo [Agus]
* Voland Humonggio – Sang Dewi [Beno]
* Verys Yamarno – Laskar Pelangi [Mahar]

AKTOR PENDUKUNG
* Slamet Rahardjo Djarot – Pasir Berbisik [Agus]
* Robby Tumewu – Ca-Bau-Kan [Thio Boen Hiap]
* Harry Pantja – Andai Ia Tahu [Suhu Aceng]
* Surya Saputra – Arisan! [Nino]
* Jaja Miharja – Rindu Kami PadaMu [Pak Sabeni]
* Gito ‘Rollies’ – Janji Joni [Pak Ucok] & Joshua Pandelaki – Catatan Akhir Sekolah [Pak Boris]
* Butet Kartaredjasa – Maskot [Misran]
* Rudy Wowor – Quickie Express [Jean Pieter Gunarto]
* Ikranegara – Laskar Pelangi [Pak Harfan]

AKTRIS
* Dian Sastrowardoyo – Pasir Berbisik [Daya]
* Ayu Azhari – Telegram [Rosa]
* Ria Irawan – Biola Tak Berdawai [Renjani]
* Lola Amalia – Novel Tanpa Huruf R [Air Sunyi]
* Marcella Zalianty – Brownies [Mel]
* Cornelia Agatha – Detik Terakhir [Regi]
* Nirina Zubir – Heart [Rachel]
* Luna Maya – Jakarta Undercover [Viki]
* Dian Sastrowardoyo – 3 Doa 3 Cinta [Dona Satelit]

AKTRIS PENDATANG
* Sherina Munaf – Petualangan Sherina [Sherina]
* Rachel Maryam – Eliana-Eliana [Eliana]
* Dewi Rezer – Rumah ke Tujuh [Lintang]
* Cut Mini – Arisan! [Meimei]
* Laudya Cynthia Bella – Virgin [Biyan]
* Sausan – Detik Terakhir [Vela]
* Rieke Diah Pitaloka – Berbagi Suami [Dwi]
* Titi Sjuman – Mereka Bilang, Saya Monyet! [Ajeng]
* Carissa Puteri – Ayat-Ayat Cinta [Maria]

AKTRIS PENDUKUNG
* Christine Hakim – Pasir Berbisik [Berlian]
* Ladya Cheryl – Ada Apa Dengan Cinta? [Alya]
* Jajang C. Noer – Biola Tak Berdawai [Mbak Wid]
* Maria Agnes – 30 Hari Mencari Cinta [Olin] & Rachel Maryam – Arisan! [Lita]
* Adinia Wirasti – Tentang Dia [Rudi]
* Dinna Olivia – Belahan Jiwa [Farlyna]
* Ira Maya Sopha – Berbagi Suami [Cik Linda]
* Dinna Olivia – Mengejar Mas-Mas [Ningsih]
* Cut Mini – Laskar Pelangi [Bu Muslimah]

ARTISTIK
Tata Artistik
* Daun Di Atas Bantal – Oeng Heri Wahyu, Roedjito, Toni Trimarsono
* Ca-Bau Kan – Iri Supit
* Tusuk Jelangkung – Adrianto Sinaga
* Arisan! – Ary Juwono
* Rindu Kami PadaMu – Budi Riyanto Karung
* Banyu Biru – Frans X.R. Paat
* Berbagi Suami – Wencislaus
* The Photograph – Men Fo
* Ayat-Ayat Cinta – Alan Sebastian

Tata Busana
* Pasir Berbisik
* Ca-Bau Kan
* Biola Tak Berdawai
* Arisan! – Haryo Balitar
* Fantasi
* Cinta Silver
* Ruang – Gracia Andrias
* Jakarta Undercover – Chitra Subijakto
* Ayat-Ayat Cinta – Retno Ratih Damayanti

Tata Rias
* Daun Di Atas Bantal – Dindin, Elis
* Ca-Bau Kan
* Tusuk Jelangkung – Jerry Octavianus
* Singa Karawang Bekasi
* Bangsal 13 – Jerry Octavianus
* 12.00 A.M. – Zainal Zheine, Deddy S.
* Denias, Senandung Di Atas Awan – Notje M. Tapitapa
* Lantai 13 – Anto de Bresta
* Doa yang Mengancam – Retno Ratih Damayanti

EDITING
* Petualangan Sherina – Sentot Sahid
* Jelangkung – Rizal Manthovany & Jose Purnomo
* Tusuk Jelangkung – Dimas Djajadiningrat
* Arisan! – Dewi S. Alibasha
* Mengejar Matahari – Sastha Sunu
* Janji Joni – Yoga K. Koesprapto
* Jomblo – Wawan I. Wibowo
* Jakarta Undercover – Cesa David Luchmansyah
* May – Wawan. I Wibowo

MUSIK
Lagu Terbaik
* “Lihat Lebih Dekat” dari ‘Petualangan Sherina’ – Cipt. Elfa Secoria, Mira Lesmana; Vocal: Sherina Munaf
* “Ada Apa Dengan Cinta?” dari ‘Ada Apa Dengan Cinta?’ – Cipt. Anto Hoed & Melly Goeslaw; Vocal: Melly Goeslaw & Erick Youdiansyah
* “Bendera” dari ‘Bendera’ – Cipt. Eros ‘SO7’ Chandra, ‘Coklat’; Vocal: ‘Coklat’
* “Melompat Lebih Tinggi” dari ’30 Hari Mencari Cinta’ – Cipt. Eros ‘SO7’ Chandra; Vocal: ‘Sheila On 7’
* “Mengejar Matahari” dari ‘Mengejar Matahari’ – Cipt. Ari Lasso & Andi Rianto; Vocal: Ari Lasso
* “Tak Bisakah” dari ‘Alexandria’ – Cipt. Ariel ‘Peter Pan’; Vocal: ‘Peter Pan’
* “Hilang” dari ‘Garasi’ – Cipt. & Vocal: ‘Garasi’
* “Pulang” dari ‘3 Hari Untuk Selamanya’ – Cipt. & Vocal: ‘Float’
* “Laskar Pelangi” dari ‘Laskar Pelangi’ – Cipt. & Vocal: ‘Nidji’

Tata Musik
* Pasir Berbisik – Thoersi Argeswara
* Ada Apa Dengan Cinta? – Melly Goeslaw & Anto Hoed
* Biola Tak Berdawai – Addie M.S.
* 30 Hari Mencari Cinta – Andi Rianto
* Mengejar Matahari – Andi Rianto
* Untuk Rena – Djaduk Ferianto
* Opera Jawa – Rahayu Supanggah
* Jakarta Undercover – Andy Ayunir, Egg
* Laskar Pelangi – Aksan Sjuman & Titi Sjuman

PENULISAN SKENARIO
Adaptasi
* 2001: Ca-Bau Kan – Nia Dinata, Puguh P.S. Admaja
* 2003: Novel Tanpa Huruf R – Be Raisuli
* 2005: Gie – Riri Reza
* 2006: Jomblo – Salman Aristo, Adhitya Mulia, Hanung Bramantyo
* 2007: Nagabonar Jadi 2 – Musfar Yasin
* 2008: Laskar Pelangi – Salman Aristo, Mira Lesmana, Riri Reza

Asli
* Petualangan Sherina – Cerita; Mira Lesmana, Skenario: Jujur Prananto
* Eliana-Eliana – Riri Reza, Prima Rusdi
* Biola Tak Berdawai – Sekar Ayu Asmara
* Arisan! – Nia Dinata & Joko Anwar
* Rindu Kami PadaMu – Armantono, Garin Nugroho
* Janji Joni – Joko Anwar
* Maskot – Ari M. Syarif, Robin Moran, Joko Nugroho
* Mengejar Mas-Mas – Monti Tiwa
* Gara-Gara Bola – Agastya Karim & Khalid Kashogi

SINEMATOGRAFI
* Pasir Berbisik – Yadi Sugandi
* Ca-Bau Kan – German G. Mintapraja, Yudi Datau
* Tusuk Jelangkung – Dimas Djajadiningrat
* 30 Hari Mencari Cinta – Ichal Tanjung
* Mengejar Matahari – Ipung Rahmat Syaiful
* Belahan Jiwa – Roy Lolang
* Ruang – Arief R. Pribadi
* Kala – Ipung Rahmat Syaiful
* Ayat-Ayat Cinta – Faozan Rizal

TATA SUARA
* Petualangan Sherina – Adimolana Mahmud, Adityawan Susanto
* Jelangkung – David Purnomo
* Tusuk Jelangkung – Adityawan Susanto, Satrio Budiono
* 30 Hari Mencari Cinta – Adityawan Susanto, Satrio Budiono
* Brownies – Asifa Nasution
* Gie – Handy Ilfat, Satrio Budiono, Adityawan Susanto
* Opera Jawa – Pahlevi C. Indra
* Kala – Khikmawan Sentosa, Dwi Budi Priyanto
* Fiksi – Satrio Budiono, Yusuf A. Patawari, Aufa Ariaputra

FILM DOKUMENTER TERBAIK
2006 Serambi
2007 Sang Buddha Bersemayam di Borobudur
2008 The Conductor – Andy Bachtiar Yusuf

FILM PENDEK TERBAIK
2006 Harap Tenang, Ada Ujian – Ifa Isfansyah
2007 Mati Bujang Tengah Malam
2008 Drupadi – Riri Reza

PENGHARGAAN PENGABDIAN SEUMUR HIDUP
* Teguh Karya
* Wim Umboh
* Christine Hakim
* Didi Petet
* Deddy Mizwar
* Eros Djarot & Benyamin S
* Connie Sutedja, Ida Kusuma, Rima Hasyim, Nani Wijaya
* Pria: Mochtar Soemodiredjo m.a. & Chrisye / Wanita: Chitra Dewi
* Pria: Slamet Rahardjo / Wanita: Leila Sari

PENGHARGAAN ISTIMEWA
* Mira Lesmana – Kuldesak & R. Dewi Saleh – Petualang Sherina
* Slamet Rahardjo Djarot & Putu Wijaya – Telegram
* Garin Nugroho – Aku Ingin Menciummu Sekali Saja
* DementiA Animation – Homeland
* Johan Jaffar, Ati Ganda, Acan Rachman, Lucky L. Hanifah (Koreografer) – Fantasi
* Ravi Bharwani – Impian Kemarau (Rainmaker); Edwin – Kara, Anak Sebatang Pohon; Aryo Danusiri – Luka’s Moment
* Jonathan Ozoh – Ekspedisi Madewa
* Wahyu Aditya (Animator)
* Mouly Surya – Fiksi.

POSTER OF THE YEAR (Non-Award Category)
* Pasir Berbisik
* Ada Apa Dengan Cinta?
* Biola Tak Berdawai
* Arisan!
* Rindu Kami PadaMu
* Janji Joni
* 9 Naga
* Jakarta Undercover
* Lost in Love

Dec
18

Avatar (2009)
Directed: James Cameron / Cast: Sam Worthington, Zoe Saldana, Sigourney Weaver

Beginilah sulitnya menjadi orang jenius. Tak seorang pun yang benar-benar memahami isi kepala mereka, visi mereka. Saya sendiri termasuk orang yang sedikit pesimis dengan Avatar, pada mulanya. Menurut saya, pada saat itu, premis Avatar terdengar kekanak-kanakan, bahkan (maaf) bodoh. Maksud saya, menghadirkan makhluk mirip manusia berwarna biru? Halo!! Tapi, beginilah sulitnya menjadi orang yang jauh dari kata jenius. Tak mampu memahami isi kepala mereka yang jenius.

Namun, begitu menonton film ini, Cameron betul-betul memberikan tinju pedas yang langsung membuat saya kalah telak. Seluruh pesimisme dan apatisme di kepala saya luluh lantak begitu saja. Saya takluk, dan terbuai oleh visi briliannya. Cameron menghadirkan sebuah ‘dunia baru’, taman bermain rekaannya, yang mampu memukau nyaris seluruh penonton di dunia, termasuk saya.

Alkisah di masa depan, tepatnya tahun 2154 (di mana saya mustahil masih hidup saat itu), Jack Sully – seorang mantan anggota marinir yang lumpuh akibat perang – bersedia untuk ikut program Avatar di planet bernama Pandora. Di sana, dia bertemu dengan Dr. Grace (Weaver), pemimpin program Avatar. Lalu, apa itu program Avatar? Bukan. Avatar di sini bukan bocah botak penggendali angin yang ada di kartun TV. Ini adalah program super canggih yang mampu ‘memindahkan’ jiwa kita dari fisik manusia, ke fisik makhluk biru penghuni Pandora, bernama Na’vi. Jack yang lumpuh girang bukan main saat berada di fisik Na’vi, yang tak hanya sehat, tapi memiliki kekuatan fisik di atas manusia. Jack juga bertemu dengan Kolonel Miles dari kalangan militer, yang menjadi penanggung jawab keamanan koloni manusia di Pandora. Miles sudah berumur, namun memiliki tubuh bak Guile di Street Fighter. Dia juga termasuk petinggi militer dari kalangan garis keras. Kolonel Miles memegang peranan penting pada nasib eksistensi Na’vi, di akhir kisah.

Jack kemudian dibawa oleh Dr. Grace, dan lainnya berpetualangan di belantara Pandora, dengan menggunakan wujud Na’vi tentu saja. Maka, dimulailah petualangan penuh imajinasi di dunia karya Cameron. Belantara Pandora adalah perpaduan eksotisme dan keajaiban. Flora dan fauna yang cuma ada di kepala Cameron dapat kita saksikan di sini. Warna-warni pelangi pun bertaburan, dengan biru-hijau-ungu-nila mendominasi layar. Lihat saja makhluk mirip dinosaurus dengan hiasan bunga raksasa di kepalanya, yang mungkin sedikit banyak mengingatkan kita dengan salah satu monster di kartun Pokemon. Atau makluk buas perpaduan Alien dan Labrador. Atau juga makhluk bernama Toruk, predator angkasa, yang dari jauh terlihat seperti layang-layang pada perayaan atau festival Cina.

Akibat diserang oleh makhluk-makhluk buas, Jack pun terpisah dari rombongan Dr. Grace. Jack pun terlantar di belantara Pandora yang indah namun ganas. Setelah diserang (lagi) oleh makhluk-makhluk malam, Jack diselamatkan oleh Neytiri (Saldana) salah satu Na’vi wanita dari klan Omaticaya.

Setelah bertemu dengan klan Omaticaya, Jack dan seluruh penonton digiring untuk tur keliling Pandora. Percayalah! Anda akan mendapatkan panorama yang lebih dari apa yang Anda bayangkan. Aksi terbang di langit dengan makhluk mirip pterodactyl, kehadiran pulau-pulau di atas awan, dan diakhiri dengan sebuah adegan klimaks nan dahsyat. Sungguh suatu visual hasil daya imajinasi Cameron yang liar, kekanak-kanakan, dan meletup-letup indah.

Keindahan Pandora memang menjadi kekuatan utama film ini. Pilar penting yang menyangga seluruh film agar tetap worth watching. Dan memang film ini layak untuk ditonton. Imajinasi Cameron mengalahkan cerita. Kisah yang ditawarkan Avatar justru sederhana, mudah ditebak, dengan beberapa klise di sana-sini. Menonton Avatar, mungkin anda akan merasakan de javu dengan film-film seperti Pocahontas, The Abyss, Aliens, Predator, The Matrix Revolution, hingga King Kong (versi Peter Jackson).

Tapi, well, yeah! It’s James Cameron’s movie! Ini bukan filmnya Bay atau Emmerich yang bahkan visual efeknya pun tidak mampu membuat kita memaafkan betapa miskinnya kisah yang mereka tawarkan –pada sebagian besar film-film mereka. James Cameron adalah salah satu sutradara jenius, khususnya dalam film-film dengan visual efek yang memukau. Mungkin hanya Steven Spielberg dan George Lucas yang bisa setara dengan Cameron, dalam menghasilkan film-film sejenis. ‘Kesalahan-kesalahan’ Cameron dapat langsung ditolerir, setelah ia menghadiahkan kita sebuah pengalaman menonton yang mengasyikan.

Pada akhirnya, Avatar adalah film dengan visual paling mengagumkan tahun ini. Seluruh kerja keras, dan budget yang dikeluarkan sukses menghasilkan karya yang mencengangkan. Dengan menonton versi 3D, anda bahkan bisa merasakan kedahsyatannya yang lebih hebat lagi. So, just sit back, and experience the whole new world, inside Cameron’s mind! Setelah menonton film ini, Anda berharap rambut Anda memiliki serat hidup, yang berfungsi seperti biological USB, agar bisa menunggangi kuda peliharaan tetangga anda (jika anda tinggal di sebelah kebun binatang, tentu saja)

Nov
10


Amadeus (1984)
Directed: Milos Forman / Cast: F. Murray Abraham, Tom Hulce, Elizabeth Berridge

Joseph Haydn pernah berkata bahwa: “Aku nyatakan kepada kalian, demi kehormatanku, bahwa dialah (Mozart) komposer terbesar yang pernah hidup di dunia”. Bakat dan kejeniusan Mozart memang sudah tersohor sejak dahulu kala. Bahkan Beethoven pun sempat berguru kepadanya. Dia adalah salah satu komposer terhebat, termasyhur, dan terpenting dalam sejarah manusia. Dia adalah bintang kejora di blantika musik klasik, yang memberikan warna baru dalam dunia musik klasik, meski hidupnya sangatlah singkat.

Bagi yang menyukai musik klasik, atau mengidolai sosok Mozart, setidaknya mengetahui bahwa Mozart adalah komposer brilian yang telah menggubah ratusan judul lagu, namun wafat dalam usia muda. Di akhir masa hidupnya, Mozart bahkan hidup susah, dan meninggal dalam keadaan miskin. Sebagian orang mengatakan bahwa faktor yang menyebabkan Mozart miskin adalah: bakat Mozart kurang dihargai, hingga akhirnya ia sulit mendapatkan pekerjaan dan uang. Namun film ini memiliki opini dan hipotesa tersendiri terhadap hal tersebut…

Film karya Milos Forman yang satu ini berbeda dari film biopik tokoh-tokoh terkenal lainnya. Kebanyakan film biopik senang mengumbar kehebatan tokoh yang diceritakan, serta mengagungkan sosok tersebut, hingga tampak mengagumkan. Akan tetapi, Amadeus bukanlah film biopik biasa. Film ini tidak mengkultuskan sosok Mozart, dan terperangkap dalam klise seperti karya-karya biopik lainnya, yang menempatkan Mozart sebagai figur manusia sempurna. Bahkan lewat film ini, Forman serta Peter Shaffer (penulis) memaksa kita untuk membuang jauh-jauh paradigma tersebut dari nama Wolfgang Amadeus Mozart.

Mozart diceritakan lewat sudut pandang Antonio Salieri (Abraham), seorang komposer terkenal asal Italia, yang menjadi komposer istana Kaisar Austria. Suatu hari, nama Wolfgang Amadeus Mozart (Hulce) didengar oleh Salieri. Kejeniusannya menjadi bahan perbincangan di kalangan bangsawan. Salieri sendiri sudah pernah mendengar nama Mozart sebelumnya, yang dikenal sebagai ‘Bocah Ajaib’ karena sudah mampu menulis konserto pada usia yang sangat muda. Kendati demikian, Salieri belum pernah melihat dan bertemu dengan Mozart secara langsung. Penasaran, Salieri pun berangkat ke Salzburg, tempat dimana Mozart bekerja sebagai musisi bagi Uskup Agung Salzburg.

Di kepala Salieri (juga kepala para penonton saat itu) dengan kejeniusan yang tersohor, tentulah Mozart merupakan pribadi yang santun, berkelas, dan ‘lurus’, layaknya bangsawan. Akan tetapi, Salieri – dan kita semua – dikejutkan oleh kenyataan bahwa ternyata Mozart tak lebih dari seorang pria muda yang hobi mengejar-ngejar wanita. Forman dan Shaffer benar-benar merengut dan mengoyak-ngoyak ‘mimpi indah’ kita, serta membawa kita menghadapi profil Mozart dengan segala ‘borok’ yang dimilikinya. Mozart digambarkan sebagai orang yang cabul, vulgar, berjiwa kekanak-kanakkan, manja, egois, hobi berfoya-foya, memiliki tawa menyebalkan yang tak sedap di dengar, dan seluruh ‘perangai buruk’ lainnya, yang bisa dijadikan suri tauladan bagi para rockstar masa kini. Sifatnya yang boros bahkan membuat dirinya jatuh miskin (inilah teori Forman dan Shaffer, mengapa Mozart akhirnya wafat dalam keadaan miskin).

Lalu, apakah Amadeus memang berniat menjelek-jelekkan nama Mozart? Tentu saja tidak. Forman dan Shaffer justru berusaha untuk memanusiawikan tokoh komposer yang satu ini. Layaknya manusia biasa, Mozart pun memiliki kelebihan dan kekurangan. Ia memang jenius, namun kurang pandai bergaul, dan memposisikan dirinya sendiri. Layaknya orang jenius lainnya, Mozart pun memiliki kendala besar dalam bersosialisasi secara normal. Dalam film ini, ‘dua sisi mata uang’ tersebut diporsir secara maksimal.

Adalah Tom Hulce yang sukses menampilkan image Mozart, sesuai kehendak Forman dan Shaffer, dengan sempurna. Lewat kemampuan olah peran yang Hulce bawakan, Mozart muncul sebagai komposer eksentrik, yang memperlakukan musik seperti mainan. Baginya, musik adalah tempat dimana dia bisa bersenang-senang, dan meluapkan seluruh hasratnya yang menggelegak bak anak-anak. Lihat saja penampilannya saat memimpin konser. Ia terlihat begitu atraktif, dan lincah, bak bocah kecil. Musik indah seperti selalu ada di dalam kepalanya, hingga ia mampu menggubah musik dengan cepat. Ia adalah bintang besar di pertunjukkan musik. Namun di luar panggung, dia bukanlah orang yang mudah disukai. Hulce membawakan seluruh kompleksitas, serta warna-warni kehidupan Mozart dengan baik dan apik.

Meskipun demikian, sebenarnya Mozart bukanlah fokus utama film ini. Benar bahwa Mozart adalah objek menarik yang diteliti film ini. Namun subjek yang meneliti objek tersebut adalah Salieri. Dialah tokoh utama kita. Lalu, siapakah Salieri? Meski merupakan seorang komposer tersohor, namun nama Salieri tidak seterkenal Mozart. Ia komposer berbakat, tapi bakatnya tertutup bayang-bayang kejeniusan Mozart. Oleh karena itulah, wajar bila Salieri iri terhadap Mozart. Dan kecemburuan Salieri menjadi ‘bumbu’ utama yang membuat film ini lezat ditonton.

Bak langit dan bumi, perangai Salieri dan Mozart sangat berbeda. Salieri adalah pria santun, lurus, terhormat, dan mencintai musik sedemikian rupa, hingga ia memohon sepenuh hati pada Tuhan, agar diberikan bakat untuk menciptakan musik-musik indah. Salieri bahkan mendedikasikan seluruh hidupnya, agar dapat menghasilkan musik yang ia sebut sebagai ‘Suara Tuhan’. Lewat performa luar biasa dari Abraham, kita dapat merasakan pemujaannya terhadap musik yang begitu mendalam. Performa Hulce memang luar biasa, namun Abaraham-lah yang bersinar paling terang di film ini. Setiap kemunculannya, ia menghadirkan kemampuan akting yang solid, nyaris tanpa cela. Sebagai Salieri, ia mengagungkan musik seperti ia mengagungkan Tuhan. Ia begitu haus terhadap musik, dan dahaganya tersebut tak pernah terpuaskan.

Dan karena musik pulalah, Salieri berani menantang Tuhan. Salieri tak pernah habis pikir, mengapa Tuhan memberikan bakat musik yang lebih besar kepada Mozart? Mengapa Mozart? Mengapa Tuhan lebih mencintai pria vulgar tersebut, daripada dirinya, yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk menyanjung Tuhan lewat lagu? Salieri cemburu buta. Salieri menginginkan bakat Mozart. Dan bila Tuhan tidak memberikannya bakat sehebat Mozart, maka ia bersumpah akan melenyapkan Mozart.

Jangan langsung menghakimi Salieri sebagai tokoh antagonis. Di film ini, tidak ada tokoh protogonis dan antagonis. Salieri dan Mozart digambarkan sebagai sosok manusia yang memiliki ambiguitas moral. Salieri memang terhormat, namun dia iri hati pada kejeniusan Mozart. Mozart memang urakan, tetapi ia tetap setia dengan istrinya. Kita tidak diberi kesempatan untuk menyukai salah satu tokoh, dan membenci tokoh yang lainnya. Simpati dan kebencian kita terhadap mereka hadir silih berganti.

Nyaris seluruh aspek di film ini digarap secara maksimal. Penyutradaraan yang apik, akting yang cemerlang, skenario yang brilian, tata artistiknya yang luar biasa, dan sinematografinya yang indah. Sebagai Constanza, istri Mozart, Berridge pun mampu mencuri perhatian kita. Ia tampil sebagai wanita yang manis, sedikit lugu, dan tetap mencintai Mozart hingga akhir hayat suaminya. Bahkan, demi membantu suaminya mencari nafkah, ia rela mengorbankan kehormatannya. Berridge sebagai Stanzi (panggilang sayang Constanza) bagaikan kue kecil mungil yang cantik dan manis.

Peter Shaffer – yang juga menulis pertunjukan teater Amadeus – bertutur dengan lancar, dan pandai memadankan kata sedemikian rupa. Dengan demikian, banyak dialog antar tokoh yang tak hanya menarik, tapi juga ‘hidup’. Dan Shaffer pun sukses membuat kita mencintai musik klasik, terutama musik klasik gubahan Mozart. Setelah menonton film ini, kita tak lagi memandang musik klasik sebagai musik yang monoton juga membosankan. Kita akan tergugah untuk mencintai musik klasik, hanya lewat serangkaian narasi yang dibawakan oleh Salieri. Daripada mengagungkan sosok sang komposer, Shaffer lebih suka memuja karya-karya Mozart.

Tata artistiknya pun sangat memanjakan mata kita. Art decoration, kostum, hingga tata riasnya tampil dengan sangat meyakinkan. Kita seolah-olah dibawa kembali ke abad 18, yang penuh dengan wig putih mengembang, dan menjulang tinggi. Ditambah sinematografinya yang cantik, lengkap sudah seluruh keindahan visual yang dihadirkan oleh Forman beserta seluruh timnya.

Mungkin yang menjadi kelemahan film ini adalah keotentikan serta akurasi datanya. Ambil contoh masa-masa akhir kehidupan Mozart. Banyak yang mengatakan bahwa Mozart menyelesaikan karya terakhirnya dengan bantuan Sussmayr, muridnya. Namun di film ini, nama Sussmayr bahkan tidak pernah disebutkan. Boro-boro memiliki murid, Mozart versi Hulce bahkan kesulitan untuk mempunyai anak didik.

Misteri siapa yang meminta Mozart menulis Requiem, lagu kematian, di penghujung hayat Mozart pun masih simpang siur. Ada yang mengatakan bahwa bangsawan Franz von Walsegg yang memintanya. Sedangkan pihak yang percaya takhyul, yakin bahwa malaikat maut-lah yang menyuruh Mozart menulis Requiem untuk kematiannya sendiri. Lalu, manakah yang dipilih oleh Forman dan Shaffer?

Rupanya, lagi-lagi, mereka memiliki teori yang berbeda. Karena banyaknya kesimpang-siuran fakta, maka rasanya sah-sah saja bila mereka mengemukakan teori mereka sendiri. Dan kalau boleh jujur, teori versi mereka jauh lebih menarik, meskipun pada kenyataannya Salieri tidak banyak terlibat dalam kehidupan nyata Mozart.

Terlepas dari itu semua, satu hal yang pasti adalah: Amadeus jelas merupakan karya terbaik dan masterpiece bagi Forman. Penggarapan seluruh aspek yang nyaris sempurna pun membawa film ini sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa. Sayangnya, gaung film ini masih kalah kencang dibandingkan film-film seperti The Godfather, atau pun film karya Forman lainnya: One Flew over the Cuckoo’s Nest. Kendati demikian, bagi pecinta dan penikmat film sejati, Amadeus layak untuk disaksikan, dan sayang sekali bila dilewatkan.

Nov
05

Doubt (2008)
Directed: John Patrick Shanley / Cast: Meryl Streep, Phillip Seymour-Hoffman, Amy Adams, Viola Davis

Prejudis merupakan tema utama yang diangkat oleh film ini. Film ini mempertanyakan sejauh mana manusia bisa bertindak di bawah landasan prasangka? Dan sedahsyat apa akibat yang ditimbulkan oleh tindakan tersebut? Mari kita simak apa yang ingin disampaikan oleh Shanley berkenaan dengan tema tersebut…

St. Nicholas sebuah sekolah dibawah naungan gereja Katolik memiliki peraturan yang ketat. Kepala sekolahnya adalah Suster Aloysius Beauvier (Streep) yang berwatak keras, disiplin, dingin, dan ‘bertangan besi’. Suster Aloysius yang selama ini berkuasa ‘mutlak’ menemui ‘tandingannya’: pendeta Father Flynn (Seymour-Hoffman). Father Flynn adalah sosok yang memiliki sifat berseberangan dengan sang suster. Father Flynn adalah sosok pria yang ramah, hangat, dan ingin merubah suasana sekolah St. Nicholas – yang semula bak penjara – menjadi lebih cerah ceria. Suster Aloysius sendiri kurang menyukai sikap moderat sang pendeta. Tanpa disadari, ia telah menanamkan benih kebencian terhadap sang pendeta, di dalam dirinya sendiri.

Konflik muncul ketika Suster James (Adams) merasakan ada keganjilan antara Father Flynn dan Anthony. Suster James adalah biarawati muda yang lugu dan naïf, sementara Anthony adalah murid berkulit hitam pertama di St. Nicholas. Karena warna kulitnya, Anthony sering dijahili oleh teman-temannya, dan hanya Father Flynn yang hadir sebagai ‘malaikat penolong’ bagi si kecil Anthony. Akan tetapi, Suster James mencurigai hubungan antara keduanya. Prasangkanya tersebut semakin menjadi-jadi ketika Anthony tampak depresi, dan menguarkan bau alkohol dari tubuhnya. Tindak tanduk sang pendeta pun semakin mencurigakan. Suster James melaporkan hal tersebut pada Suster Aloysius, dan perseteruan pun dimulai…

Tanpa bukti yang kuat, hanya dilandaskan oleh prasangka, Suster Aloysius berusaha untuk mengeluarkan sang pendeta dari sekolah dan gereja St. Nicholas. Tentu saja sang pendeta tidak berdiam diri. Ia menyangkal segala tuduhan yang dialamatkan pada dirinya. Kebencian antara keduanya pun semakin memuncak, dan prejudis membutakan mata mereka.

Lalu, apakah kecurigaan tersebut benar adanya? Shanley baru akan menjawabnya di akhir kisah. Sepanjang film ia hanya mengombang-ambing rasa ingin tahu penonton tanpa memberikan petunjuk yang jelas. Dan sepanjang film, tidak hanya para tokoh yang dilanda oleh keraguan dan prasangka, hal yang sama pun dirasakan oleh para penonton.

Kualitas seni peran adalah aset utama film ini. Empat aktor sentral di film ini menampilkan kemampuan seni peran nomor satu. Mereka tampil memukau, solid, dan kompak. Sebagai Suster Aloysius, kemampuan seni peran Streep tak perlu diragukan lagi. Seperti kata Father Flynn, Suster Aloysius bagaikan seekor naga, dan itulah yang Streep tampilkan. Ia bagaikan ‘naga’ yang berkuasa di sekolahnya, dan akan menyemburkan api di saat murka. Dan sang naga betina ini pun tak ragu-ragu melangkah sedikit lebih jauh, demi mencapai tujuannya.

Pesona yang kontradiktif ditampilkan oleh Seymour-Hoffman sebagai Father Flynn yang kharismatik. Father Flynn lebih ‘bebas’, flekstibel, namun mampu menyaingi sang ‘naga’ ketika keduanya berseteru. Lihat saja adegan saat keduanya saling adu mulut, dan silat lidah. Benar-benar sebuah adegan ‘baku hantam’ yang telak, meski agak kedodoran di beberapa bagian. Kendati begitu, adegan tersebut sangat asyik untuk diikuti.

Lain lagi dengan Amy Adams, yang menampilkan sosok Suster James yang lugu dan rapuh. Ia memang memicu terjadinya perseteruan, namun pada saat konflik terjadi, ia adalah ‘korban’ dari ambisi kedua petingginya. Ia adalah tempat bagi Aloysius dan Flynn menanamkan pengaruh mereka berdua. Ia juga terjebak dalam tarik-menarik kepentingan antara keduanya. Pada saat bersamaan, ia pun turut menjadi buffer bisu, yang tak mampu berbuat apa-apa untuk mengatasi masalah, namun terus menerus menerima gempuran dari atasannya yang sedang bertikai. Ia adalah korban nyata dari kecurigaan yang ia semaikan sendiri. Dia bagaikan personifikasi kaum proletar kelas bawah yang senantiasa tertindas, dan tak mampu berbuat apa-apa ketika para petingginya sedang berseteru.

Davis juga membawakan kemampuan akting yang apik dan solid sebagai Mrs. Miller, ibu Anthony. Sayangnya, ia hanya mendapatkan porsi yang minim. Ia hanya muncul kurang lebih 15 menit. Namun, ia bisa sedikit bergembira karena bisa masuk nominasi Oscar bersama ketiga rekannya di atas.

Pada akhirnya, ini bukan kisah tentang si baik melawan si jahat. Tidak ada yang benar-benar menang, ataupun kalah; juga tidak ada yang pihak benar maupun salah. Film ini sekali lagi membuktikan bahwa manusia tetap merupakan makhluk ‘abu-abu’, meskipun berada di lingkungan ‘putih’. Meski settingnya adalah gereja katolik, namun tema yang ditawarkan Shanley adalah tema yang universal. Shanley sendiri tidak bersusah payah untuk menjelaskan doktrin serta ajaran-ajaran gereja. Ini adalah kisah tentang prejudis yang membutakan mata, hati, serta iman manusia, tatkala manusia menyerah ke dalamnya. Dan ini adalah kisah dimana pada akhirnya prasangka buruk hanya akan membawa kemudaratan bagi semua pihak…

Nov
05

Inglourious Basterd (2009)

Directed: Quentin Tarantino / Cast: Brad Pitt, Melani Laurent, Christoph Waltz, Eli Roth

Beginilah akibatnya bila Quentin Tarantino sedang ingin bersenang-senang. Setelah bosan dengan tema hitman / mafia yang sering ia angkat, Tarantino mencari ‘lahan’ baru untuk tempat bermainnya. Dan lahan yang ia jadikan sebagai amusement park-nya kali ini adalah Perang Dunia II, saat Nazi menduduki Perancis. Tarantino membuat film perang sejarah? Jangan terkecoh! Memang benar Perang Dunia II dan kisah Nazi menjadi setting filmnya kali ini. Akan tetapi, Tarantino tidak bermaksud untuk membuat dramatisasi dari kejadian aktual yang ada pada masa perang. Toh, seperti yang telah dikatakan di atas, Tarantino hanya ingin bersenang-senang.

Nazi. Bila kita bicara tentang Nazi, yang paling kita ingat adalah tindakan-tindakan kejam mereka terhadap kaum yahudi, dan tentu saja pemimpin mereka yang berkumis pelit, Adolf Hitler. Ketika Nazi menduduki Perancis, Standartenfuhrer Hans Landa, bersama pasukannya, membantai keluarga Dreyfus dengan keji. Meski demikian, Shosanna Dreyfus (Laurent) berhasil selamat setelah melarikan diri.

Empat tahun berselang, setelah banyak menimbulkan terror, para pasukan Nazi di Perancis kini justru diteror oleh grup kecil, yang dijuluki ‘The Basterd’ oleh kalangan perwira Nazi. The Basterd dipimpin oleh Letnan Aldo Reine, asal Amerika Serikat. Bersama 8 orang ‘pasukannya’, Reine melancarkan serangan-serangan brutal, primitif, namun sukses memunculkan rasa takut di kalangan Nazi. Spesialisasi The Basterd adalah menguliti kulit kepala para pasukan Nazi. Bahkan Hitler pun murka ketika mendengar tindakan The Basterd tersebut kepada para perwiranya.

Akan tetapi kita tidak banyak disuguhkan sepak terjang The Basterd dalam mengupas kulit kepala musuhnya. Ada misi yang lebih besar yang ingin dilakukan The Basterd, dan ide misi itu datang dari buah pikiran aktris Jerman Bridget von Hammersmark (Diane Kruger). Misi mereka diberi nama ‘Operation Kino’. Bagi yang paham bahasa Jerman, pasti tahu apa arti dari kata ‘Kino’. Tujuan misi itu adalah: membunuh seluruh petinggi Nazi yang akan mengadakan gala premier film propaganda mereka, berjudul ‘Nation’s Pride’.

Di saat bersamaan, Emmanuele Mimieux, pemilik bioskop tempat diadakannya premier film tersebut, juga memiliki maksud tersendiri. Tanpa ada kaitannya dengan The Basterd, Mimieux juga hendak melaksanakan misi yang sama, yaitu membunuh Hitler beserta kroco-kroconya. Motif Mimieux adalah balas dendam. Karena sebenarnya Mimieux adalah Shosanna, yang mengganti seluruh identitas dirinya setelah berhasil selamat dari kebrutalan pasukan Hans Landa.

Jangan mengharapkan film ini memiliki akurasi data sejarah yang tepat. Sebaliknya, lewat film ini, Tarantino justru ‘memporak-porandakan’ sejarah, serta menciptakan sejarahnya sendiri. Oleh karena itulah, jangan sekali-kali menggunakan film ini sebagai referensi saat kalian menulis skripsi, atau karya tulis ilmiah lainnya! Bagaimana pun juga, film ini adalah ‘taman hiburan’ kreasi Tarantino.

Tarantino mengerahkan seluruh kejeniusannya (serta kesintingannya) kala menggarap karyanya yang satu ini. Kisahnya yang gila-gilaan, karakter unik dan terkadang komikal, extreme violence, serta dialog panjang yang kadang tidak penting –namun cerdas dan memiliki punchline tepat sasaran di beberapa bagian– diporsir maksimal oleh Tarantino. Toh itu semua merupakan beberapa ke-khas-an Tarantino. Tak lupa pembabakan kisah dengan menggunakan ‘chapter’ layaknya novel, juga muncul di film ini. Hal yang sama juga muncul di film Tarantino sebelumnya, seperti Pulp Fiction dan dwilogi Kill Bill. Tak lupa, banyolan-banyolan konyol a la Tarantino pun banyak berserakan dimana-mana, seperti saat Reiner dan anak buahnya menyamar sebagai orang Itali. Sungguh konyol, segar dan menggelitik.

Tarantino juga menyajikan banyak hal ‘baru’ di film ini. Selain setting kisahnya yang menjadi ‘lahan’ baru baginya, ia juga mencoba menampilkan sedikit kisah cinta di filmnya kali ini. Unsur romansa tidak pernah mendapat perhatian besar di film-filmnya. Akan tetapi, di Inglorious Basterd, Tarantino mulai sedikit memperhatikan unsur tersebut. Jangan girang dulu, dengan mengharapkan bakal ada kisah cinta mengharu biru di tengah kemelut perang. Hei, kita sedang bicara tentang film Tarantino saat ini! Di sini Tarantino menyajikan kisah cinta yang menyesakkan dada, bertepuk sebelah tangan, dan berakhir tragis. Tarantino pun mengakhiri sesi cerita cintanya dengan brutal, namun dengan iringan lagu yang menyayat hati. Sungguh bagaikan percikan kembang api di malam festival yang kelabu.

Tarantino juga berhasil menjaga tensi film dari awal hingga akhir. Bahkan, dia sempat mempermainkan adrenalin kita dengan adegan-adegan yang intimidatif. Tensi yang fluktuatif tidak membuat para penonton kesal. Sebaliknya, menonton film ini bagaikan menaiki roller coaster sepanjang 2,5 jam. Sangat menyenangkan. Itu karena Tarantino berhasil menempatkan adegan-adegan thrilling pada waktu dan saat yang tepat. Tarantino tahu kapan harus membuat penonton rileks dan tertawa, juga tahu kapan harus membuat penonton menahan nafas. Satu lagi bukti kehandalan si edan Tarantino.

Soal akting, para aktor mampu menyungguhkan performa yang memadai, sesuai tuntutan kesintingan Tarantino. Mereka mampu menghidupkan tokoh yang berkarakter unik dengan baik. Dan mungkin hanya di film ini kita bisa melihat Hitler mengamuk, tertawa terbahak-bahak, dan meminta permen karet pada anak buahnya. Tak hanya itu, di sini kita juga bisa melihat Goebbels menangis setelah dipuji Hitler, juga kemunculan sosok Emil Jannings –aktor pertama yang meraih gelar Best Actor di ajang Academy Awards, yang juga merupakan anggota Partai Nazi. Tarantino menabur banyak kejutan kecil yang menyenangkan.

Laurent berhasil menampilkan sosok Shosanna yang mengalami trauma, namun memiliki kebencian mendalam pada Nazi, hingga sanggup melakukan aksi nekat untuk balas dendam. Kruger sukses menyuguhkan pesona selebritis era film hitam-putih, sekaligus kefasihan bertindak bak Mata Hari. Lalu ada Pitt dengan kumis tipis, aksen Tennesse, luka di leher, dan air muka seperti orang yang baru saja meminum air limun kecut, yang mampu menarik perhatian kita. Letnan Aldo Reine adalah tokoh heroik komikal, namun tahu apa yang ia lakukan. Bagi saya pribadi, ini adalah penampilan Pitt yang paling saya suka, bersama 12 Monkeys, dan Burn After Reading.

Terakhir, mari kita curahkan perhatian kita pada Christoph Waltz, yang menyajikan seni peran yang jempolan. Hans Landa merupakan seteru utama bagi Aldo Reine, yang juga komikal tapi handal. Itulah Landa, yang dijuluki The Jew Hunter! Landa adalah sosok Kolonel Nazi yang senantiasa bertutur kata sopan, berprilaku santun, dan tersenyum hangat. Namun dibalik seluruh kesempurnaan etikanya tersebut, ia juga memancarkan aura intimidatif yang kentara. Bahkan para penonton pun akan merasakan tekanan intimidasi yang dipancarkan oleh Waltz lewat sosok Landa. Meski demikian, Landa juga seorang pribadi yang flamboyant, komikal, kadang histeris dan konyol, tapi memiliki kemampuan analisis luar biasa, serta handal dalam memburu orang, terutama kaum Yahudi. Tarantino sendiri mengaku bahwa Hans Landa adalah tokoh terbaik yang pernah ia ciptakan. Waltz membawakan sosok Landa dengan sangat sempurna. Hasilnya? Gelar Aktor Terbaik dari ajang Festival de Cannes pun berhasil ia dapatkan!

Dengan segala kegilaan yang ada, tak dapat dipungkiri lagi bahwa Inglorious Basterd merupakan salah satu film yang paling menghibur di tahun 2009 ini. Nantikan pula ending film ini yang akan mengejutkan penonton, persembahan terakhir Tarantino setelah susah payah ‘menghancurkan’ sejarah yang ada. Sebuah adegan yang mampu membuat Stauffenberg, Tom Cruise, dan Bryan Singer gigit jari karena iri setengah mati. Tarantino dan The Basterd mengakhiri Operation Kino mereka dengan gemilang…

Oct
19

Bolt (2008)
Directed: Chris Williams, Byron Howard / Cast: John Travolta, Miley Cyrus, Mark Walton

Dia adalah anjing putih yang perkasa. Dia memiliki kekuatan super, dapat berlari secepat kilat, lincah tanpa tandingan, dan gonggongannya sangat destruktif. Dia adalah anjing super. Dia bernama Bolt. Dan dia adalah bintang di serial televisi. Ya, Bolt adalah anjing superstar, yang hanya memiliki kekuatan super hasil rekaan visual efek. Bolt terlihat mengesankan di depan layar, beraksi ke sana kemari, menjalankan misi rahasia yang telah ditulis di atas skenario. Yang menjadi masalah adalah, Bolt sepenuhnya yakin bahwa dia adalah anjing super.

Bisa dibilang, inilah pembuktian Disney pada dunia, bahwa mereka masih mampu menghasilkan sebuah film animasi 3D tanpa bantuan Pixar. Sebelumnya, film animasi 3D non-Pixar mereka mendapat hasil dan sambutan yang kurang baik –jika tidak mau dibilang mengecewakan. Valiant dan The Wild flop dipasaran, sementara Meet the Robinson disambut biasa-biasa saja, kendati filmnya bagus. Bolt bisa dikatakan titik balik bagi Disney, yang telah tergantung pada Pixar selama satu dekade lebih, di sektor animasi 3D.

Lewat serangkaian kesalah-pahaman, Bolt (Travolta) menyangka majikannya, Penny (Cyrus), benar-benar diculik oleh Dr. Calico, penjahat fiktif di serial televisinya. Berniat menolong Penny, Bolt malah terbawa dan tersesat di New York. Ia pun mengira ‘kekuatan super’nya lenyap akibat stereofoam. Dan lewat kesalah-pahaman pula, Bolt ‘terikat’ bersama Mitton (Susie Essman), kucing liar hitam yang disangka peliharaan Dr. Calico. Tak lupa, hadir pula marmut-di-dalam-bola-plastik, bernama Rhino (Walton), yang semakin mewarnai hiruk-pikuk petualangan Bolt.

Kisah Bolt sendiri terbilang segar. Memadukan sedikit ide dari The Truman Show, aksi heroik a la The Incredibles, serta komedi-satiris tentang ‘palsunya’ dunia showbiz, Bolt hadir begitu lucu dan menggelitik. Bolt, yang bagaikan kura-kura di dalam tempurung, begitu bersemangat menolong Penny, sekaligus bersikeras bahwa dia adalah anjing super sungguhan.

Adalah Mitton yang menyadarkan Bolt, bahwa dia hanyalah superstar dengan kekuatan artifisial belaka. Mitton adalah kucing hitam cerdik / licik (tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya), dengan pandangan sinis akan dunia. Semula Mitton hidup layaknya Fagin, tokoh di kisah Oliver Twist, yang mengeksploitasi para merpati untuk memberikannya upeti berupa makanan. Hidupnya yang ‘nyaman’ porak-poranda, begitu Bolt datang. Mitton pun berkali-kali nyaris kehilangan nyawanya, akibat aksi nekat Bolt, yang masih tidak tahu menahu tentang dunia nyata, di luar studio film.

Lalu muncullah Rhino, marmot peliharaan, yang hobi menonton televisi, dan Bolt adalah idolanya. Karena pemujaannya terhadap Bolt yang berlebihan – serta antusiasme dan semangatnya yang over-the-top – ‘fans berat’ Bolt yang satu ini malah lebih nekat, dibandingkan dengan Bolt sendiri. Rhino hadir sebagai tokoh dramatis yang mencuri perhatian, dan hati kita. Kemunculan – serta aksi gilanya – senantiasa ditunggu oleh kita semua.

Dengan kemunculan Mitton dan Rhino, Bolt bukan satu-satunya karakter yang menarik untuk diperhatikan. Bolt memang tokoh utama, tapi Mitton dan Rhino memiliki keunikan karakter yang lebih kaya dibandingkan oleh Bolt. Mitton yang ogah-ogahan beralih dari ‘musuh’, menjadi ‘mentor’ bagi Bolt, agar ia bisa bertahan di dunia nyata. Rhino yang terkadang membawa masalah pun (tanpa ia sadari, tentu saja), bisa menjadi penyemangat dan penolong nyata bagi Bolt. Hubungan yang mengikat mereka lewat serangkaian kejadian accidental, malah berubah menjadi persahabatan yang kukuh, saat mereka berpetualang bersama ‘menyelamatkan’ Penny.

Practical joke, serta humor-humor satiris diporsir secara maksimal, dari awal hingga akhir, tanpa harus terasa berlebihan. Keberagaman karakter trio anjing-kucing-marmut pun turut mewarnai kisah di film ini, dan menjadi poin plus tersendiri. Bolt yang clueless, Mitton yang hopeless, dan Rhino yang fearless, membuat perjalanan sederhana mereka menjadi sebuah petualangan yang menegangkan, sekaligus mengocok perut.

Sekali lagi, kehadiran Bolt bisa dijadikan sebagai pembuktian, bahwa animasi 3D Disnye-non-Pixar patut dan layak untuk diperhitungkan. Nominasi Oscar untuk kategori Best Animated Feature 2008 pun berhasil diraihnya (bersanding dengan Wall-E), merupakan bukti nyata dari pernyataan tersebut.

Oct
19

The Mist (2007)
Directed: Frank Darabont / Cast: Thomas Jane, Marcia Gay-Harden, Toby Jones

Apa yang akan Anda lakukan, bila Anda terjebak di suatu tempat, sementara ada sesuatu di luar nalar manusia, yang siap menghabisi Anda, jika Anda berani keluar? Itulah yang dialami oleh David Drayton (Jane), beserta puluhan orang lainnya, yang terkurung di dalam supermarket, saat kabut tebal misterius menyelimuti seluruh kota.

David dan putranya Bill pergi ke supermarket pagi itu, untuk membeli perlengkapan dan persediaan makanan, jikalau badai besar datang lagi, seperti malam sebelumnya. David pun turut mengajak tetangganya, Tuan Norton, seorang pengacara temperamental. Di supermarket, mereka malah tak bisa keluar ketika kabut datang. Bukan sekedar kabut biasa, namun ada berbagai jenis spesies monster mematikan, yang siap memangsa siapapun, tanpa pandang bulu.

The Mist adalah film yang diangkat dari karya Stephen King, maestro cerita horror mencekam. Karya King tersebut diangkat ke pita seluloid oleh Frank Darabont. Darabont sendiri sudah pernah menggarap film yang juga didasarkan dari buah tangan King, yaitu The Shawsank Redemption, dan The Green Mile. Kedua film tersebut mendapat banyak pujian, bahkan masuk nominasi Best Picture di ajang Academy Award 1994 dan 1999. Darabont juga dikenal setia dalam mengangkat kisah-kisah rekaan King. Oleh karena itulah, di tangan Darabont, karya King bisa dibilang ‘aman’.

Akan tetapi yang menjadi pertanyaan sekarang adalah premis kisah The Mist itu sendiri. Bagi yang belum pernah membaca karya King yang satu ini, mungkin akan timbul pertanyaan: King menulis kisah tentang monster? Padahal King terkenal dengan cerita horror-thriller psikologis, atau setidaknya drama yang mencekam. Wajar saja bila kita berpikir demikian, karena bila kita berbicara tentang film monster, mungkin yang terbayang adalah film dengan kisah absurd tentang survival, yang penuh jeritan, kematian, dan tentu saja makhluk mengerikan berukuran jumbo. Lihat saja film-film macam Cloverfield, Godzilla, atau Eight Legged Freak. Film-film yang menghibur memang, namun absurd. Terlebih, di zaman seperti ini, rasanya keberadaan monster sulit diterima oleh akal sehat kita. Lalu, apakah The Mist juga merupakan film monster konvensional, seperti film-film di atas?

Jawabannya ya dan tidak. Ya, karena film ini juga menawarkan kisah tentang survival, dengan jeritan, kematian, darah, serta kemunculan makhluk besar mengerikan. Akan tetapi, semua itu bukanlah komoditi utama yang ingin disampaikan oleh King –juga Darabont. Ada tema lain yang hendak mereka tuturkan pada kita semua.

Perlu kita ingat bahwa kita sedang membicarakan film yang diangkat dari tulisan King. King pasti takkan mau mempertaruhkan reputasi baiknya, dengan menghasilkan sebuah karya picisan dan klise tentang monster. Bagaimana pun juga, karya King syarat dengan tema psikologis manusia. Unsur psikologis pun terdapat di film ini. King dan Darabont menempatkan puluhan orang dengan ego masing-masing, di satu tempat, dan di bawah rasa takut yang luar biasa.

Dengan demikian, The Mist tak sekedar menjadi film tentang survival belaka. Terdapat kekayaan emosi di dalamnya. Rasa takut, frustasi, hingga egoisme yang tinggi. Terjadi perbenturan ego, juga kepentingan masing-masing individu, yang ingin selamat dan tetap hidup. Kemudian, di bawah kondisi mencekam, muncul pula beragam reaksi. Ada yang panik, ada yang putus asa, ada yang pasrah, ada pula yang tetap berpikir jernih dan berani mengambil resiko, demi mempertahankan hidup. King dan Darabont menarik habis seluruh kualitas – juga keburukan – terbesar dari tiap manusia, ketika hidup mereka berada dalam bahaya.

Mereka juga mempertanyakan hakikat dari kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Apakah rasa kemanusiaan masih tetap ada, jika nyawa ini terancam? Ataukah manusia akan berubah menjadi makhluk-makhluk primitif dan jahiliyah, yang tidak peduli dengan keselamatan orang lain, asalkan mereka sendiri bisa selamat? Nilai-nilai kemanusiaan tersebut dipaparkan lewat adegan perdebatan yang membuat hati miris. Egoisme bisa membuat manusia lebih mengerikan daripada binatang buas.

Dalam segi akting, performa para aktornya pun termasuk mumpuni. Saya bukan fans Thomas Jane, tapi saya menyukai aktingnya di film ini. Ia terlihat natural memerankan sosok seorang ayah, sekaligus ‘pahlawan’ yang menjadi andalan, tanpa harus mengenakan kaos hitam bergambar tengkorak, sambil menenteng senapan besar. Putranya Bill, adalah alasan utama baginya untuk tetap bertahan hidup. Pemeran Bill pun tampil meyakinkan. Meskipun laki-laki, ia tetaplah seorang anak kecil, yang membutuhkan sang ayah di sampingnya di kala takut. Toby Jones dan Frances Strenhagen juga berhasil berperan sebagai tokoh ‘lemah’, yang diluar dugaan dapat menunjukkan potensi diri mereka.

Akan tetapi, adalah Marcia Gay-Harden yang bermain paling cemerlang. Aktris nominasi Oscar ini berperan sebagai Mrs. Carmondy, salah satu pengunjung yang terjebak di supermarket. Mrs. Carmondy adalah seorang penganut agama yang fanatik. Ia adalah sosok fanatis, paranoid, sekaligus superstitious, hingga membuatnya seperti wanita setengah gila. Mrs. Carmondy pun pada akhirnya berubah menjadi figur false prophet yang justru membawa mudarat dan malapetaka, di tengah kondisi serba rikuh. Tokoh Mrs. Carmondy dihadirkan King bukan untuk ‘menceramahi’ audiens dengan dalil-dalil Tuhan, atau doktrin suatu agama. Sadar tak sadar, keimanan seseorang akan diuji oleh Tuhan saat berada dalam kondisi penuh tekanan. Mereka yang beriman pada Tuhan secara tulus, ikhlas dan hanya menginginkan ridho-nya, niscaya akan melewati ujian itu dengan baik. Sementara mereka yang ‘beriman’ karena kefanatisan mereka, atau karena takut mati, hanya akan terpuruk sebagai manusia-manusia yang paling buruk di muka Bumi ini. Mungkin, itulah kiranya yang ingin King sampaikan lewat sosok Mrs. Carmondy (juga para ‘pengikut’ dadakan Mrs. Carmondy lainnya).

Secara bertahap, Mrs. Carmondy menciptakan rasa benci di hati kita semua, para audiens, lewat sikapnya yang merasa paling suci di antara semua. Klimaksnya, Mrs. Carmondy mengambil langkah sumbang, yang akan membuat kita muak setengah mati. Namun, seperti di kisah King lainnya, setiap tokoh akan menerima karmanya masing-masing. King adalah crowd-pleaser yang menghadirkan balasan setimpal bagi para tokohnya, terutama tokoh antagonis / antagonistis.

Visualisasi monster-monster besar tak banyak diperlihatkan. Hanya monster-monster kecil yang secara konstan terlihat menyerang. Dengan demikian, kehadiran monster bukan merupakan fokus utama film ini. Sosok monster seolah-olah ‘hanya’ ditempatkan sebagai ‘ancaman’ nyata bagi para survivor. Ketegangan yang sama mungkin tetap dapat dibangun, bila para monster diganti dengan sepuluh pembunuh psikopatis, yang mengepung supermarket, bersembunyi di balik kabut, dan siap membunuh siapa saja yang keluar dari supermarket tersebut. Dengan demikian, The Mist yang semula berdiri sebagai film tentang monster, bertransformasi menjadi film drama-thriller-psikologis, yang menyajikan ‘perang urat syaraf’ di antara para survivor, sebagai fokus dan konsumsi utamanya.

Dan film ini pun berakhir melalui sebuah adegan twist ironis, yang menyesakkan dada. Di akhir kisah, King dan Darabont seolah ingin menyampaikan pesan terakhir mereka: bahwa usaha dan perjuangan keras hanya akan sia-sia, bila manusia akhirnya terperangkap dalam keputus-asaan. Sebuah pesan yang menohok, dan pastinya takkan dilupakan oleh kita semua.

Oct
16

There Will Be Blood (2008)
Directed: Paul Thomas Anderson / Cast: Daniel Day-Lewis, Paul Dano

Mereka bilang dia monster, iblis, ada yang bilang dia kejam, tapi dia hanyalah seorang pengusaha, dan juga seorang ayah. Ya, dia seorang ayah. Bukan ayah yang baik mungkin, dan bukan pula ayah kandung, tapi tetap saja dia seorang ayah. Dialah Daniel Plainview.

Bicara tentang There Will be Blood, maka kita wajib berbicara tentang Daniel Plainview, karena dialah inti dari film ini. Ia tak sekedar tokoh utama, yang menjadi objek pembahasan belaka. Ia adalah nyawa dan jiwa dari film karya Paul Thomas Anderson itu sendiri. Ia adalah selebriti kita, pusat tata surya bernama There Will Be Blood, dimana seluruh perhatian tercurah pada dirinya –juga kumisnya yang intimidatif.

Diangkat dari novel ‘Oil’ karya Upton Synclair, film ini mengetengahkan kisah perjuangan Daniel Plainview hingga ia menjadi saudagar minyak yang sukses di Amerika Serikat, di awal abad ke 20. Ia adalah pria bertekad baja, yang pantang menyerah dan sangat kompetitif. Ia adalah perpaduan unik dari manusia yang tegar, tegas, berwibawa, temperamental, dan bisa berubah menjadi sangat kejam. Ia adalah pria yang sulit dimengerti, dan dia lebih senang dianggap demikian. Yang jelas, ia adalah pria yang sulit disukai oleh semua orang.

Daniel Plainview dibawakan secara luar biasa oleh Daniel Day-Lewis, yang membawakan seni olah peran yang memukau. Boleh dikatakan, aktingnya dalam film ini adalah salah satu performa akting terbaik dekade ini, untuk kategori aktor (bersanding dengan Forrest Whitaker di The Last King of Scotland). Day-Lewis sukses memancarkan seluruh kompleksitas Daniel Plainview. Lihatlah betapa murkanya Daniel saat ia marah; namun lihat pula betapa kentalnya rasa cemas yang terpancar, saat H.W – putranya – mengalami kecelakaan. Pesona iblis-malaikat terpadu sempurna, harmonis, di dalam sosok manusia fana bernama Daniel Plainview.

Kharisma adalah salah satu aset besar yang dimiliki oleh Daniel Plainview. Kharisma sejati, yang memang terpancar berkat wataknya. Kharisma itulah yang membuat Daniel disegani, ditakuti, bahkan dibenci. Kharisma itu terpancar lewat caranya bicara, caranya berjalan, caranya meninju orang, hingga caranya mengedutkan kumisnya, serta menitikkan air matanya. Sekali lagi, Day-Lewis sukses mengerahkan seluruh kemampuannya, solid, dari awal hingga akhir. Bahkan kita akan tetap menaruh respek pada Daniel Plainview meski ia kotor dan dekil berselimut minyak hitam pekat.

Daniel Plainview beserta putranya datang ke sebuah kota kecil di California untuk melebarkan sayap perusahaannya, setelah mendapat info dari Paul Sunday (Dano), bahwa kota kecil tersebut memiliki pasokan minyak yang banyak. Tidak banyak kendala yang dihadapi oleh Daniel untuk membuka tambang minyaknya di sana. Kendala terbesarnya datang lewat wujud Eli Sunday, saudara kembar Paul (yang juga diperankan oleh Dano).

Eli bukanlah seorang oil man seperti Daniel, bukan pula berasal dari perusahaan minyak saingan Daniel. Eli hanyalah seorang pastor muda dari sebuah gereja kecil di kota tersebut. Eli hadir dengan pembawaan yang tenang, sopan, dan alim. Inikah tokoh protagonist kita? Jangan terlalu cepat mengambil keputusan! Agamawan yang baik adalah mereka yang tak sekedar memahami ajaran hakiki agamanya, melainkan juga memiliki kecintaan yang tulus kepada Tuhannya. Tulus, bukan kecintaan fanatis yang berlebihan.

Layaknya Eli yang menjadi ‘ancaman’ bagi Daniel Plainview, Paul Dano pun berhasil menjadi ‘rival’ akting bagi Day-Lewis. Tidak sehebat Day-Lewis mungkin, tapi setidaknya ia memberikan performa akting yang apik dan terkadang over-the-top sesuai tuntutan cerita. Hadirnya Eli sebagai pastor, tak berarti membuat film ini terjebak menjadi film tentang si baik melawan si jahat, dimana si jahat akan kalah pada akhirnya. Syukurlah karena Synclair – dan Anderson – tidak membuat kisah ini sebagai kisah tentang agamawan mukhlis yang berhasil menaklukkan ‘iblis’. Sekali lagi, jangan terburu-buru menganggap Eli sebagai rohaniawan yang putih bersih bak malaikat. Dalam sekejap, tanpa basa-basi yang tak perlu, Eli bertransformasi dari pemuda santun, menjadi sosok yang paling dibenci (namun selalu ditunggu) kehadirannya.

Ini adalah kisah tentang manusia beserta ego dan ambisinya, yang berhadapan dengan manusia lainnya, yang juga memiliki ego dan ambisi. Ini bukanlah cerita tentang hitam melawan putih, iblis melawan malaikat, kebatilan melawan kebajikan. Ini adalah kisah tentang pertentangan dua manusia yang dipersenjatai oleh ego mereka masing-masing. Adu hantam ambisi tak terelakkan lagi, dan yang kuatlah yang akan keluar sebagai pemenang. Pada kasus ini, pepatah Homo Homini Lupus – mau tak mau – adalah benar adanya.

Sebagai sutradara dan penulis naskah, Anderson membuktikan bahwa ia adalah movie maker yang memang patut diperhitungkan. Sebagai ‘pendongeng’ di film ini, ia tidak terburu-buru menuturkan kisah dari novel Synclair tersebut. Dengan sabar Anderson merajut jalinan cerita yang ada, hingga semuanya berjalan apik, meluncur dengan alur yang terjaga, walau durasi panjang memang tidak dapat dihindarkan.

Dan berkat jasa Robert Elswit, sebagai sinematografer, Anderson berhasil menangkap ‘kejam’nya dunia yang sedang ditantang oleh Daniel. Elswit berhasil menampilkan California yang terik, tandus, kering, berdebu, liar, ganas, dan tak ramah; sekaligus menghadirkan suasana kepasrahan total sang alam di kala malam, dengan kekontrasan yang menawan. Elswit layak diganjar Oscar.

Dan terakhir, mari kita bicarakan tentang judul. Kenapa Anderson memilih judul ‘There Will be Blood’? Karena ‘Oil’ terdengar terlalu sederhana? Mungkin saja. Tapi, sepertinya Anderson menginginkan sebuah judul yang tak hanya impresif, namun juga dapat merepresentasikan ‘kekejaman’ yang ada. Kejamnya hidup, kejamnya wilayah Wild West, juga kejamnya Daniel Plainview. Dan ‘There Will be Blood’ terasa sebagai judul yang tepat. Terdengar bengis, keji dan intimidatif. Semua sensasi tersebut dapat kita rasakan saat menonton film ini.

Akan tetapi, bagi saya pribadi, judul ‘There Will be Blood’ itu sendiri saya anggap sebagai ‘janji’ dari Anderson, yang memang akan menghadirkan adegan berdarah di film ini. Memang, tidak ada adegan darah yang menyembur dahsyat, layaknya minyak bumi yang menyemprot ke udara. Namun, setidaknya Anderson akan menampilkan adegan bersimbah darah, sebagai konklusi final dari seluruh ‘kebusukan manusia’, yang terakumulasi hingga akhir film.

There Will be Blood benar-benar menghadirkan suatu pengalaman tak terlupakan. Setidaknya, kita tidak akan melupakan sosok Daniel Plainview, lengkap dengan kumisnya yang perkasa.

Oct
16

Elephant (2003)
Directed: Gus Van Sant / Cast: Alex Frost, Eric Duelen, John Robinson

Pagi itu adalah pagi yang biasa di kota Oregon. Pagi di musim gugur yang indah malah, dengan udara yang sejuk, dan panorama kota suburban yang asri. Hal yang sama pun terjadi di sebuah SMA, dimana rutinitas berjalan apa adanya. Normal, terkadang membosankan. Namun, pagi itu berubah seketika, tatkala dua orang siswa membawa malapetaka ke dalam sekolah tersebut.

Mengisahkan tentang aktifitas di SMA tersebut, dengan fokus beberapa orang siswa-siswi di sana, selama dua hari. Sepanjang film, kita akan menyaksikan pelbagai kegiatan yang mereka jalani, sebelum tragedi berdarah menghampiri mereka. Masalah keluarga, pacaran, pencarian jati diri, hobi, hingga gossip dan diet tak sehat, adalah cerita yang dipaparkan melalui para tokohnya.

Menarik? Jujur, tidak. Karena itu semua bukanlah topik yang ingin dibahas, dan disampaikan oleh Van Sant. Van Sant ingin menceritakan hal yang lain, jauh dari hingar bingar, dan keceriaan masa SMA yang penuh warna. Van Sant melirik ‘sisi gelap’ kehidupan SMA, dan itulah yang ia sampaikan di filmnya yang satu ini. Jadi, lupakan saja High School Musical yang cerah-ceria, lengkap dengan dansa-dansinya, saat menonton film ini.

Kesunyian, kesepian, usaha untuk diakui, penghinaan, dan bullying, adalah isu-isu yang Van Sant tawarkan. Namun, kerap kali tema tersebut gagal ditangkap oleh penonton awam. Wajar memang, karena isu tersebut tersembunyi dalam dialog-dialog ringan (malah cenderung tak berbobot), dan kesunyian yang nyaris hadir di sepanjang film. Alur filmnya pun datar, statis, dan baru menghentak pada lima belas menit terakhir. Jadi, film ini memang bukan film untuk semua orang, karena tidak semua orang dapat menangkap isu yang Van Sant bawakan tersebut. Akan tetapi, jika kita menggali lebih dalam, memperhatikan secara seksama, kita akan menemukan banyak pesan yang dibawa oleh Van Sant.

Seperti yang telah dikatakan di atas, isu-isu yang Van Sant paparkan memang tidak kentara, bahkan mungkin kita tidak menyadari bahwa isu itu ada. Hanya kesunyian dan kesepian yang terasa kental. Nuansa sunyi dan sepi mendominasi nyaris di seluruh film, hingga terasa begitu menyesakkan. Rasa sunyi, sepi, frustasi, dan terhina adalah faktor-faktor utama yang mengakibatkan terjadinya insiden berdarah di akhir kisah. Namun sekali lagi, perasaan-perasaan tersebut tidak tergali dalam, dan itu memang disengaja. Dengan demikian, penonton dapat menggalinya, dan mendapatkan sensasinya sendiri.

Lalu, apa menariknya dari film datar-statis-minimalis yang satu ini? Salah satu keunggulan dari film ini adalah gaya, serta teknik penyutradaaran Van Sant yang menarik, asyik dan segar. Tidak orisinil mungkin, namun segar. Sepanjang film kita akan mengikuti para aktor, sebagian besar di-shoot dari belakang, hingga kita bagaikan seorang penguntit yang sedang mengikuti mereka.

Tiap aktor pun memiliki bab tersendiri, yang menceritakan problematika mereka masing-masing. Pembabakan ini bagaikan puzzle, yang pada akhirnya akan tersusun sempurna, dan berakhir ke sebuah tragedi. Asyiknya lagi, ketika para aktor berinteraksi, atau setidaknya bersinggungan, kita bisa mendapatkan dua adegan yang sama, namun dari point of view yang berbeda. Contoh, ketika John (Robinson) dan Elias (Elias McConnell) bertemu dan bercakap-cakap, kita akan mendapatkan dua adegan percakapan tersebut, di bab John dan Elias, melalui point of view masing-masing. Sungguh suatu pengalaman menonton yang sederhana, tapi menyenangkan.

Dan pada akhirnya, kita sampai ke adegan klimaks. Setelah dibuai dengan kisah-kisah yang mampu menimbulkan kantuk, mendadak kita bagaikan dibangunkan secara paksa, dan ditampar secara bertubi-tubi. Sebuah adegan yang mendobrak, menohok, dan tanpa ampun. Menonton film ini bagaikan berjalan di atas lapisan es yang tipis. Tanpa kita sadari, ‘retakan-retakan’ akan selalu muncul, meski kita sudah berjalan secara hati-hati. Namun pada akhirnya, kita akan terperosok juga ke dalam air dingin yang membekukan, ketika retakan tersebut hancur sepenuhnya. Film ini menawarkan ending yang miris, mengejutkan, bahkan mengerikan.

Aksi tembak-tembakannya memang tidak istimewa, tapi bagaimana aksi tersebut bisa terjadi – serta efek dari aksi itu sendiri – itulah yang mencengangkan. Bahkan transformasi kedua tokoh sentral, dari protagonis ke antagonis, pun tidak terasa drastis. Meskipun demikian, itulah yang terjadi. Terkadang, kejahatan bisa muncul begitu saja, secara mendadak, dengan kecepatan yang luar biasa.

Film ini sendiri merupakan salah satu film ‘Death Trilogy’ milik Gus Van Sant, yang terinspirasi dari tragedi SMA Columbia di tahun 1999. Film ini secara mengejutkan meraih Palm D’or, penghargaan tertinggi di Festival de Cannes. Tak hanya itu, berkat penyutradaraannya yang sederhana namun tricky, Van Sant pun diganjar dengan penghargaan Sutradara Terbaik di ajang yang sama.

Trivia: Gus Van Sant adalah seorang gay, yang kerap kali memasukkan unsur-unsur homoseksualitas di dalam filmnya, termasuk di film ini. Adanya diskusi gay-straight, dan kecupan dua tokoh sentral menjadi ‘bumbu-bumbu’ favorit Van Sant, yang tidak mengganggu jalan cerita, namun sebenarnya juga bisa dibuang begitu saja.

About The Title: Kenapa film ini diberi judul Elephant? Mungkin penjelasan berikut dapat sedikit menjawab pertanyaan tersebut:

“The title is a tribute to the 1989 BBC short film of the same name, directed by Alan Clarke. Van Sant originally believed Clarke’s title referred to the story of several blind men trying to describe an elephant and each one drawing different conclusions based on which body part they were touching. Later, he found out that it was referring to the saying about “a problem being as easy to ignore as an elephant in a bedroom.” Van Sant’s film uses the earlier interpretation, as the same general timeline is shown multiple times, from multiple viewpoints.

The earlier film reflects on sectarian violence in Northern Ireland. Van Sant’s minimalist style and use of tracking shots mirrors Clarke’s film. Clarke used the title to refer to the phrase “elephant in the room” — a reference to the collective denial of some very obvious problem.

A drawing of an elephant as well as an image of an elephant on a throw on the bed can be seen in Alex’s room, while he plays the piano. (Wikipedia)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.